Cara Beli SBN Ritel 2026: Panduan ORI, SBR, SR, ST untuk Pemula

Cara beli SBN Ritel online di Bibit, Bareksa, atau bank — panduan lengkap ORI, SBR, SR, Sukuk Tabungan. Kupon, pajak, jadwal penerbitan 2026, dan perbandingan dengan deposito.

Ringkas

Artikel ini ditulis sebagai panduan evergreen untuk pembaca Indonesia. Fokus kami adalah keputusan, biaya, risiko, pajak, dan trade-off yang benar-benar relevan untuk investor jangka panjang.

Standar sumber

Jika topik menyentuh regulasi, pajak, atau produk, kami mengutamakan sumber primer dan memperbarui artikel saat ada perubahan yang material.

Koreksi

Lihat kebijakan editorial kami atau kirim koreksi ke [email protected].

SBN Ritel: Panduan Lengkap

Surat Berharga Negara (SBN) Ritel adalah salah satu instrumen investasi terbaik yang tersedia untuk investor ritel Indonesia. Dijamin oleh pemerintah, kupon lebih tinggi dari deposito, dan pajak lebih rendah. Anehnya, banyak orang Indonesia yang bahkan tidak tahu instrumen ini ada.

Artikel ini akan menjelaskan semua yang perlu Anda ketahui tentang SBN Ritel.

Apa Itu SBN?

Surat Berharga Negara (SBN) adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia untuk membiayai APBN. Ketika Anda membeli SBN, Anda pada dasarnya meminjamkan uang kepada pemerintah, dan pemerintah membayar Anda bunga (kupon) secara berkala.

SBN Ritel adalah versi SBN yang dirancang khusus untuk investor individu (ritel) — dengan minimum investasi yang terjangkau dan proses pembelian yang mudah.

Jenis-Jenis SBN Ritel

Ada empat jenis utama SBN Ritel:

1. ORI (Obligasi Negara Ritel)

  • Jenis: Konvensional
  • Kupon: Fixed rate (tetap)
  • Tradeable: ✅ Ya — bisa dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo
  • Tenor: 3 tahun
  • Pembayaran kupon: Setiap bulan

2. SBR (Savings Bond Ritel)

  • Jenis: Konvensional
  • Kupon: Floating with floor (mengambang dengan batas bawah)
  • Tradeable: ❌ Tidak — hanya bisa di-early redemption sebagian
  • Tenor: 2 tahun
  • Pembayaran kupon: Setiap bulan

3. SR (sukuk ritel)

  • Jenis: Syariah
  • Kupon (imbalan): Fixed rate (tetap)
  • Tradeable: ✅ Ya — bisa dijual di pasar sekunder
  • Tenor: 3 tahun
  • Pembayaran imbalan: Setiap bulan

4. ST (Sukuk Tabungan)

  • Jenis: Syariah
  • Kupon (imbalan): Floating with floor (mengambang dengan batas bawah)
  • Tradeable: ❌ Tidak — hanya bisa di-early redemption sebagian
  • Tenor: 2 tahun
  • Pembayaran imbalan: Setiap bulan

Bingung membedakan SR dan ST? Baca panduan khusus perbedaan sukuk ritel dan sukuk tabungan untuk melihat imbal hasil, likuiditas, dan early redemption secara side-by-side.

Tabel Perbandingan

FiturORISBRSRST
BasisKonvensionalKonvensionalSyariahSyariah
KuponFixedFloating (floor)FixedFloating (floor)
Tenor3 tahun2 tahun3 tahun2 tahun
Tradeable
Early RedemptionVia pasar sekunder50% setelah 1 tahunVia pasar sekunder50% setelah 1 tahun
MinimumRp 1 jutaRp 1 jutaRp 1 jutaRp 1 juta
MaksimumRp 5 miliarRp 5 miliarRp 5 miliarRp 5 miliar
Pajak kupon10% final110% final110% final110% final1

Kupon: Berapa Return-nya?

Kupon SBN Ritel biasanya lebih tinggi dari suku bunga deposito bank besar. Berikut contoh kupon dari seri-seri terbaru:

SeriJenisKuponTahun Terbit
ORI025ORI6,40%2024
SBR013SBR6,45% (floor)2024
SR020SR6,30%2024
ST012ST6,40% (floor)2024
ORI026ORI6,30%2025
SR021SR6,25%2025

Sumber: Kementerian Keuangan RI — DJPPR SBN Ritel. Kupon bervariasi setiap seri.

Perbandingan dengan Deposito

AspekDeposito Bank BesarSBN Ritel
Return kotor2,5-3,0%6,0-6,5%
Pajak20% final10% final
Return netto2,0-2,4%5,4-5,85%
JaminanLPS (maks Rp 2M)Pemerintah RI (tanpa batas)

Return netto SBN Ritel bisa 2-3x lipat dari deposito bank besar. Dan jaminannya bahkan lebih kuat — dijamin oleh negara, bukan lembaga penjamin.

Hati-Hati: Bank Sering Promosikan Deposito, Bukan SBN

Mengapa bank tidak mempromosikan SBN Ritel dengan gencar?

Karena bank tidak untung jika Anda membeli SBN. Bank mendapat fee distribusi yang sangat kecil dari pemerintah. Sebaliknya, deposito adalah dana murah yang bank gunakan untuk memberikan pinjaman dengan bunga lebih tinggi. Spread bunga inilah yang menjadi profit utama bank.

Klaim Bank yang Perlu Dipertanyakan

Klaim 1: “Deposito lebih aman karena dijamin LPS”

Menyesatkan. SBN dijamin langsung oleh pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang (UU No. 24/2002 tentang Surat Utang Negara). LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) hanya menjamin deposito maksimal Rp 2 miliar per bank per nasabah2.

Jika Anda memiliki dana di atas Rp 2 miliar, SBN justru lebih aman karena tidak ada batas maksimal jaminan.

Klaim 2: “Deposito lebih likuid, bisa dicairkan kapan saja”

⚠️ Setengah benar. Deposito memang bisa dicairkan sebelum jatuh tempo, tapi Anda akan kehilangan seluruh bunga atau dikenakan penalti besar. Likuiditas deposito adalah ilusi jika Anda kehilangan return.

SBN tradeable (ORI/SR) bisa dijual di pasar sekunder kapan saja. SBN non-tradeable (SBR/ST) memiliki early redemption 50% setelah holding period 1 tahun. Untuk uang darurat, keduanya bukan pilihan ideal — gunakan rekening tabungan atau pasar uang.

Klaim 3: “Bunga deposito juga tinggi, tidak kalah jauh”

Salah. Mari kita hitung return netto (setelah pajak) dengan contoh konkret:

Perbandingan Return Netto: Deposito vs SBN (Simulasi 2025-2026)

Asumsi:

  • Dana: Rp 100 juta
  • Tenor: 2 tahun
  • Deposito bank besar: 3,0% p.a., pajak 20%
  • SBN Ritel (SBR/ST): 6,3% p.a., pajak 10%
TahunDeposito (Return Netto)SBN Ritel (Return Netto)Selisih
Tahun 1Rp 2.400.000 (2,4%)Rp 5.670.000 (5,67%)+Rp 3.270.000
Tahun 2Rp 2.400.000 (2,4%)Rp 5.670.000 (5,67%)+Rp 3.270.000
Total 2 tahunRp 4.800.000Rp 11.340.000+Rp 6.540.000

Dengan dana Rp 100 juta selama 2 tahun, Anda akan mendapat Rp 6,54 juta lebih banyak dengan SBN dibanding deposito bank besar. Ini bukan selisih kecil.

Return netto SBN = 136% lebih tinggi dari deposito dalam contoh ini.

Mengapa Bank Tidak Gencar Promosikan SBN?

Konflik kepentingan. Bank adalah bisnis yang mencari profit. Dana deposito adalah sumber pendanaan murah yang mereka salurkan sebagai kredit dengan bunga 8-15% (KPR, kredit konsumsi, dll). Jika Anda memindahkan uang dari deposito ke SBN, bank kehilangan dana murah tersebut.

Bukti: Coba bandingkan berapa kali Anda melihat iklan deposito bank vs iklan SBN Ritel. Deposito dipromosikan agresif dengan banner, SMS, telemarketing. SBN? Hampir tidak ada iklan sama sekali, meski SBN lebih menguntungkan untuk nasabah.

Jadi ketika relationship manager bank Anda menawarkan deposito, ingat: mereka tidak bekerja untuk kepentingan Anda, mereka bekerja untuk kepentingan bank.

Bagaimana Cara Membeli SBN Ritel?

SBN Ritel dijual melalui mitra distribusi yang ditunjuk pemerintah. Mitra distribusi meliputi:

Bank

  • BCA, Mandiri, BRI, BNI, CIMB Niaga, dan bank-bank lainnya

Fintech/Marketplace

Langkah-langkah pembelian:

  1. Buka akun di salah satu mitra distribusi (jika belum punya)
  2. Registrasi SBN — biasanya ada proses registrasi terpisah khusus SBN
  3. Tunggu masa penawaran — setiap seri hanya dijual dalam periode tertentu (biasanya 2-3 minggu)
  4. Pesan (order) — tentukan jumlah yang ingin dibeli (min. Rp 1 juta, kelipatan Rp 1 juta)
  5. Bayar — transfer sesuai jumlah pesanan dalam batas waktu
  6. Selesai — kupon akan masuk ke rekening Anda setiap bulan

Kalender Penerbitan

Pemerintah biasanya menerbitkan sekitar 7 seri SBN Ritel per tahun, dengan jadwal yang relatif teratur:

Bulan (Perkiraan)Seri
Januari-FebruariORI / SBR
Maret-AprilSR / ST
Mei-JuniSBR / ST
Juli-AgustusORI / SR
September-OktoberST / SBR
November-DesemberSR / ORI

Jadwal dapat berubah. Pantau pengumuman resmi di kemenkeu.go.id atau djppr.kemenkeu.go.id

Karena ada banyak seri per tahun, Anda tidak perlu khawatir ketinggalan — selalu ada seri berikutnya dalam 1-2 bulan.

Risiko SBN Ritel

Risiko yang (hampir) tidak ada:

  • Risiko gagal bayar: Secara praktis nol. SBN dijamin oleh pemerintah Indonesia melalui UU. Pemerintah harus bangkrut untuk gagal bayar — dan jika itu terjadi, deposito bank Anda juga tidak aman.

Risiko yang perlu dipahami:

  • Risiko likuiditas (SBR & ST): Anda tidak bisa menjual sebelum jatuh tempo, kecuali early redemption 50% setelah 1 tahun. Pastikan uang ini tidak akan Anda butuhkan dalam 2 tahun.
  • Risiko pasar (ORI & SR): Jika dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo, harganya bisa naik atau turun tergantung suku bunga. Jika Anda hold sampai jatuh tempo, risiko ini tidak relevan.
  • Risiko inflasi: Kupon fixed mungkin terasa rendah jika inflasi melonjak. SBR dan ST mengatasi ini dengan kupon floating.

SR vs ST: Mana yang Lebih Cocok?

Untuk banyak investor pemula, kebingungan terbesar justru bukan ORI vs SBR, tetapi sukuk ritel vs sukuk tabungan.

  • Pilih SR jika kamu ingin kupon tetap dan opsi menjual di pasar sekunder.
  • Pilih ST jika kamu lebih suka instrumen yang tidak diperdagangkan, tetapi tetap punya opsi early redemption.
  • Jika kamu ingin lihat perbandingan lengkap SR vs ST, mulai dari persamaan sukuk ritel dan sukuk tabungan sampai kapan masing-masing lebih cocok, baca Persamaan dan Perbedaan Sukuk Ritel vs Sukuk Tabungan.

Fixed vs Floating: Mana yang Lebih Baik?

SkenarioPilihan Lebih Baik
Anda yakin suku bunga akan turunORI/SR (fixed — terkunci di rate tinggi)
Anda yakin suku bunga akan naikSBR/ST (floating — ikut naik)
Anda tidak tahu arah suku bungaSBR/ST (floor melindungi, upside terbuka)
Anda mungkin butuh likuiditasORI/SR (bisa dijual di pasar sekunder)
Anda pasti tidak butuh uangnya 2 tahunSBR/ST (tidak perlu khawatir harga pasar)

Jika Anda tidak mau pusing memikirkan arah suku bunga, SBR atau ST (floating with floor) adalah pilihan yang paling “autopilot” — kupon Anda dilindungi batas bawah, tapi bisa ikut naik jika suku bunga naik.

Konvensional vs Syariah: Apakah Ada Perbedaan Return?

Secara praktis, tidak ada perbedaan signifikan. ORI dan SR biasanya menawarkan kupon yang sangat mirip (selisih 0,05-0,15%). Begitu juga SBR dan ST.

Perbedaan utamanya adalah pada struktur akad:

  • SBN konvensional (ORI, SBR): berbasis utang dan bunga
  • SBN syariah (SR, ST): berbasis underlying asset dan imbalan (bukan bunga)

Jika Anda memerlukan investasi yang sesuai prinsip syariah, pilih SR atau ST. Jika tidak ada preferensi, pilih berdasarkan fitur (fixed vs floating, tradeable vs non-tradeable).

Strategi SBN dalam Portofolio

SBN Ritel cocok sebagai komponen pendapatan tetap dalam portofolio Anda:

  1. Tangga SBN (SBN Ladder): Beli seri berbeda setiap beberapa bulan. Ketika satu seri jatuh tempo, reinvestasi ke seri baru. Ini memberikan likuiditas bertahap dan rata-rata kupon.

  2. Pelengkap reksa dana indeks: Alokasikan sebagian portofolio ke SBN untuk mengurangi volatilitas keseluruhan. Misalnya: 70% reksa dana indeks + 30% SBN. Pelajari lebih lanjut di Alokasi Aset dan Obligasi dan SBN.

  3. Pengganti deposito: Untuk uang yang tidak akan dipakai 2-3 tahun, SBN hampir selalu lebih baik dari deposito — return lebih tinggi, pajak lebih rendah, jaminan lebih kuat.

Artikel Terkait

Kesimpulan

SBN Ritel adalah instrumen yang sering diabaikan tapi sangat menarik:

  • ✅ Dijamin pemerintah (risiko gagal bayar hampir nol)
  • ✅ Kupon 5,4-5,85% netto (2-3x deposito)
  • ✅ Pajak hanya 10% (vs 20% deposito)
  • ✅ Minimum Rp 1 juta
  • ✅ Kupon dibayar setiap bulan
  • ✅ Tersedia versi syariah

Jika Anda saat ini menyimpan uang jangka menengah (2-3 tahun) di deposito, pertimbangkan serius untuk memindahkan sebagian ke SBN Ritel. Return-nya lebih tinggi, pajaknya lebih rendah, dan jaminannya lebih kuat.


Referensi

  1. Kementerian Keuangan RI — DJPPR: Informasi resmi SBN Ritel (kemenkeu.go.id, djppr.kemenkeu.go.id)
  2. Peraturan Pemerintah No. 91/2021: Penurunan tarif pajak SBN Ritel dari 15% menjadi 10% final
  3. UU No. 24/2002: Tentang Surat Utang Negara — dasar hukum jaminan pemerintah untuk SBN
  4. Peraturan LPS No. 4/PLPS/2020: Batas maksimal penjaminan simpanan Rp 2 miliar per nasabah per bank (lps.go.id)
  5. Klik Pajak (2021): “Surat Berharga Negara: Pengertian, Jenis, dan Pajaknya” (klikpajak.id)

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi. Lakukan riset sendiri sebelum berinvestasi.

Artikel Terkait

Footnotes

  1. PP 91/2021. Pajak SBN Ritel diturunkan dari 15% menjadi 10% final. Sumber: Klik Pajak 2 3 4

  2. Peraturan LPS No. 4/PLPS/2020 tentang Penjaminan Simpanan Nasabah Bank. Batas maksimal penjaminan Rp 2 miliar per nasabah per bank. Sumber: LPS

Pertanyaan Umum

Apa perbedaan utama antara ORI, SBR, SR, dan ST?

ORI dan SR berbunga tetap (fixed rate) dan bisa diperjualbelikan di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. SBR dan ST berbunga mengambang mengikuti BI Rate (floating with floor) dan tidak bisa dijual — hanya bisa early redemption 50% setelah 1 tahun. SR dan ST berbasis syariah, ORI dan SBR konvensional. Semua bertenor 2-3 tahun dengan minimum investasi Rp 1 juta.

Di mana dan bagaimana cara membeli SBN Ritel?

SBN Ritel bisa dibeli secara online melalui: (1) Platform investasi seperti Bibit, Bareksa, atau Ajaib saat penawaran perdana dibuka, (2) Aplikasi perbankan seperti BCA, BRI, Mandiri, BNI yang menjadi mitra distribusi, (3) Aplikasi resmi pemerintah di laman DJPPR Kemenkeu. Penawaran SBN Ritel dibuka terbatas 2-4 minggu per seri — pantau jadwalnya di djppr.kemenkeu.go.id.

Bisakah SBN Ritel dicairkan sebelum jatuh tempo?

Tergantung jenisnya. ORI dan SR bisa dijual di pasar sekunder kapan saja, tapi harga jual bisa di atas atau di bawah harga beli tergantung kondisi pasar. SBR dan ST tidak bisa dijual tapi ada fasilitas early redemption: Anda bisa cairkan maksimum 50% dari kepemilikan setelah melewati holding period 1 tahun, tanpa penalti.

Berapa pajak kupon SBN Ritel dan bagaimana perbandingannya dengan deposito?

Kupon SBN Ritel dikenakan PPh Final 10% — lebih rendah dari deposito yang dikenakan 20%. Misalnya: SBR dengan kupon 6,5%/tahun menjadi 5,85% setelah pajak, sedangkan deposito dengan bunga 4%/tahun menjadi 3,2% setelah pajak. Kombinasi kupon lebih tinggi + pajak lebih rendah membuat SBN Ritel biasanya memberikan return bersih yang lebih baik dari deposito bank besar.

Seberapa aman SBN Ritel? Apa yang terjadi jika pemerintah Indonesia gagal bayar?

SBN Ritel dijamin langsung oleh pemerintah Indonesia dan didukung oleh APBN. Jika pemerintah gagal bayar (default), itu berarti Indonesia mengalami krisis ekonomi sistemik — skenario yang jauh lebih buruk dari kegagalan satu bank atau perusahaan. Dalam sejarahnya, Indonesia tidak pernah gagal bayar SBN Ritel. Risiko ini sangat rendah, menjadikan SBN Ritel salah satu instrumen paling aman setelah tabungan/deposito dijamin LPS.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.